Inilah Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 Tentang Desa

Posted by Ngatiyat Prambudi Friday, June 20, 2014 0 comments

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa pada 30 Mei lalu.
PP ini berfungsi untuk pelaksanaan sejumlah ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, serta untuk mengoptimalkan penyelenggaraan pemerintahan desa. Aturan tersebut berisi syarat dan masa jabatan kepala desa, sumber anggaran desa, dan ketentuan pengelolaan keuangan desa.
Aturan ini mengatur seluruh aspek dari penyelenggaraan pemerintah desa, termasuk pengaturan pengelolaan dan sumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa).
Pemerintah pusat harus menyalurkan dana khusus bagi penyelenggaraan pemerintah desa yang disebut sebagai Alokasi Dana Desa (ADD). ADD bersumber dari APBN yang ditransfer melalui APBD kabupaten/kota.
Pemerintah kabupaten/kota juga harus mengalokasikan minimal 10 persen dari dana perimbangan kabupaten/kota setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus.
Selain itu, desa mendapatkan tambahan dana sebesar 10 persen dari realisasi penerimaan pajak dan retribusi daerah kabupaten/kota. Sebanyak 60 persen dari tambahan dana itu dibagi merata untuk seluruh desa, sedangkan 40 persen sisanya didistribusikan secara proporsional menurut hasil penerimaan dari masing-masing desa.
APB Desa digunakan untuk mendanai penyelenggaraan kewenangan yang berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa. Adapun program/kewenangan yang ditugaskan dari pemerintah pusat dan daerah masing-masing didanai oleh APBN dan APBD.
PP 43/2014 juga membatasi dana ADD yang boleh digunakan untuk membiayai upah perangkat desa, termasuk kepala desa.
Desa yang mendapatkan ADD kurang dari Rp 500 juta hanya boleh menggunakan 60 persen dari ADD untuk perangkat desa, desa dengan ADD Rp 500 juta-Rp700 juta maksimal 50 persen untuk perangkat desa. ADD Rp700 juta-Rp900 juta maksimal 40 persen, dan desa dengan ADD di atas Rp 900 juta maksimal 30 persen untuk perangkat desa.
Penghasilan total seluruh perangkat desa ditetapkan oleh bupati/wali kota dengan besaran penghasilan sekretaris desa minimal 70 persen penghasilan kepala desa dan perangkat desa lain minimal 50 persen dari penghasilan kepala desa.
Mendagri sendiri belum menjelaskan mengenai keuangan dalam PP tersebut. Menurutnya itu adalah tugas dari Kementerian Keuangan untuk mengklasifikasi ADD untuk desa.
Untuk mengunduh PP No. 43 Th, 2014 silahkan KLIK DISINI

Sumber :
http://www.jpnn.com/read/2014/06/13/240115/Presiden-Teken-PP-untuk-UU-Desa

www.setneg.go.id//.../docviewer.php?...PP%20Nomor%2043%20Tahun2014

Baca Selengkapnya ....

Download PP Nomor 43 Tahun 2014 Tentang Desa

Posted by Ngatiyat Prambudi 0 comments
Seperti yang sudah saya janjikan beberapa waktu yang lalu, dalam posting download Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014, bahwa kalau PP (Peraturan Pemerintah) atau petunjuk pelaksanaan tentang undang-undang tersebut disahkan akan saya share untuk anda.

Hari Jum'at tanggal 30 Mei 2014, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Petunjuk Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. PP ini berfungsi untuk pelaksanaan sejumlah ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, serta untuk mengoptimalkan penyelenggaraan pemerintahan desa. Aturan tersebut berisi syarat dan masa jabatan kepala desa, sumber anggaran desa, dan ketentuan pengelolaan keuangan desa.
Aturan ini mengatur seluruh aspek dari penyelenggaraan pemerintah desa, termasuk pengaturan pengelolaan dan sumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa).
Pemerintah pusat harus menyalurkan dana khusus bagi penyelenggaraan pemerintah desa yang disebut sebagai Alokasi Dana Desa (ADD). ADD bersumber dari APBN yang ditransfer melalui APBD kabupaten/kota.
Pemerintah kabupaten/kota juga harus mengalokasikan minimal 10 persen dari dana perimbangan kabupaten/kota setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus.
Selain itu, desa mendapatkan tambahan dana sebesar 10 persen dari realisasi penerimaan pajak dan retribusi daerah kabupaten/kota. Sebanyak 60 persen dari tambahan dana itu dibagi merata untuk seluruh desa, sedangkan 40 persen sisanya didistribusikan secara proporsional menurut hasil penerimaan dari masing-masing desa.
APB Desa digunakan untuk mendanai penyelenggaraan kewenangan yang berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa. Adapun program/kewenangan yang ditugaskan dari pemerintah pusat dan daerah masing-masing didanai oleh APBN dan APBD.
PP 43/2014 juga membatasi dana ADD yang boleh digunakan untuk membiayai upah perangkat desa, termasuk kepala desa.
Desa yang mendapatkan ADD kurang dari Rp 500 juta hanya boleh menggunakan 60 persen dari ADD untuk perangkat desa, desa dengan ADD Rp 500 juta-Rp700 juta maksimal 50 persen untuk perangkat desa. ADD Rp700 juta-Rp900 juta maksimal 40 persen, dan desa dengan ADD di atas Rp 900 juta maksimal 30 persen untuk perangkat desa.
Penghasilan total seluruh perangkat desa ditetapkan oleh bupati/wali kota dengan besaran penghasilan sekretaris desa minimal 70 persen penghasilan kepala desa dan perangkat desa lain minimal 50 persen dari penghasilan kepala desa.

Untuk Download PP Nomor 43 Tahun 2014 silahkan klik dibawah ini :


Jika anda gagal download silahkan kirim email ke : ahlikarton@gmail.com dan kami akan mengirimkan melalui email untuk anda.



Baca Selengkapnya ....

Kisah Drupadi dan Pandawa

Posted by Ngatiyat Prambudi Monday, June 16, 2014 0 comments


Drupadi adalah anak yang lahir dari hasil "Putrakama Yadnya", yaitu ritual memohon anak dalam wiracarita Mahabarata. Diceritakan setelah Drupada dipermalukan oleh Drona, beliau pergi ke dalam hutan untuk merencanakan balas dendam. Lalu beliau memutuskan untuk mempunyai putra yang akan membunuh Drona, dan seorang putri yang akan menikah dengan Arjuna. Dibantu oleh resi Jaya dan Upajaya, Drupada melaksanakan “Putrakama Yadnya” dengan sarana api suci. Drupadi lahir dari api suci tersebut.

Perkawinan dengan para Pandawa

Dalam kitab Mahabharata versi India dan dalam tradisi pewayangan di Bali, Dewi Drupadi bersuamikan lima orang, yaitu Panca Pandawa. Pernikahan tersebut terjadi setelah para Pandawa mengunjungi Kerajaan Panchala dan mengikuti sayembara di sana. Sayembara tersebut diikuti oleh para kesatria terkemuka di seluruh penjuru daratan Bharatawarsha (India Kuno), seperti misalnya Karna dan Salya. Para Pandawa berkumpul bersama para kesatria lain di arena, namun mereka tidak berpakaian selayaknya seorang kesatria, melainkan menyamar sebagai brahmana. Di tengah-tengah arena ditempatkan sebuah sasaran yang harus dipanah dengan tepat oleh para peserta dan yang berhasil melakukannya akan menjadi suami Dewi Drupadi.

Para peserta pun mencoba untuk memanah sasaran di arena, namun satu per satu gagal. Karna berhasil melakukannya, namun Drupadi menolaknya dengan alasan bahwa ia tidak mau menikah dengan putera seorang kusir. Karna pun kecewa dan perasaannya sangat kesal. Setelah Karna ditolak, Arjuna tampil ke muka dan mencoba memanah sasaran dengan tepat. Panah yang dilepaskannya mampu mengenai sasaran dengan tepat, dan sesuai dengan persyaratan, maka Dewi Drupadi berhak menjadi miliknya. Namun para peserta lainnya menggerutu karena seorang brahmana mengikuti sayembara sedangkan para peserta ingin agar sayembara tersebut hanya diikuti oleh golongan kesatria.

Karena adanya keluhan tersebut maka keributan tak dapat dihindari lagi. Arjuna dan Bima bertarung dengan kesatria yang melawannya sedangkan Yudistira, Nakula, dan Sadewa pulang menjaga Dewi Kunti, ibu mereka. Kresna yang turut hadir dalam sayembara tersebut tahu siapa sebenarnya para brahmana yang telah mendapatkan Drupadi dan ia berkata kepada para peserta bahwa sudah selayaknya para brahmana tersebut mendapatkan Drupadi sebab mereka telah berhasil memenangkan sayembara dengan baik.

Setelah keributan usai, Arjuna dan Bima pulang ke rumahnya dengan membawa serta Dewi Drupadi. Sesampainya di rumah didapatinya ibu mereka sedang tidur berselimut sambil memikirkan keadaan kedua anaknya yang sedang bertarung di arena sayembara. Arjuna dan Bima datang menghadap dan mengatakan bahwa mereka sudah pulang serta membawa hasil meminta-minta. Dewi Kunti menyuruh agar mereka membagi rata apa yang mereka peroleh. Namun Dewi Kunti terkejut ketika tahu bahwa putera-puteranya tidak hanya membawa hasil meminta-minta saja, namun juga seorang wanita. Dewi Kunti tidak mau berdusta maka Drupadi pun menjadi istri Panca Pandawa.

Upacara Rajasuya

Pada saat Yudistira menyelenggarakan upacara Rajasuya di Indraprastha, seluruh kesatria di penjuru Bharatawarsha diundang, termasuk sepupunya yang licik dan selalu iri, yaitu Duryodana. Duryodana dan Dursasana terkagum-kagum dengan suasana balairung Istana Indraprastha. Mereka tidak tahu bahwa di tengah-tengah istana ada kolam. Air kolam begitu jernih sehingga dasarnya kelihatan sehingga tidak tampak seperti kolam. Duryodana dan Dursasana tidak mengetahuinya lalu mereka tercebur. Melihat hal itu, Drupadi tertawa terbahak-bahak. Duryodana dan Dursasana sangat malu. Mereka tidak dapat melupakan penghinaan tersebut, apalagi yang menertawai mereka adalah Drupadi yang sangat mereka kagumi kecantikannya.
Ketika tiba waktunya untuk memberikan jamuan kepada para undangan, sudah menjadi tradisi bahwa tamu yang paling dihormati yang pertama kali mendapat jamuan. Atas usul Bisma, Yudistira memberikan jamuan pertama kepada Sri Kresna. Melihat hal itu, Sisupala, saudara sepupu Sri Kresna, menjadi keberatan dan menghina Sri Kresna. Penghinaan itu diterima Sri Kresna bertubi-tubi sampai kemarahannya memuncak. Sisupala dibunuh dengan Cakra Sudarsana. Pada waktu menarik Cakra, tangan Sri Kresna mengeluarkan darah. Melihat hal tersebut, Dewi Drupadi segera menyobek kain sari-nya untuk membalut luka Sri Kresna. Pertolongan itu tidak dapat dilupakan Sri Kresna.

Permainan dadu

Setelah menghadiri upacara Rajasuya, Duryodana merasa iri kepada Yudistira yang memiliki harta berlimpah dan istana yang megah. Melihat keponakannya termenung, muncul gagasan jahat dari Sangkuni. Ia menyuruh keponakannya, Duryodana, agar mengundang Yudistira main dadu dengan taruhan harta, istana, dan kerajaan di Indraprastha. Duryodana menerima usul tersebut karena yakin pamannya, Sangkuni, merupakan ahlinya permainan dadu dan harapan untuk merebut kekayaan Yudistira ada di tangan pamannya. Duryodana menghasut ayahnya, Dretarastra, agar mengizinkannya bermain dadu. Yudistira yang juga suka main dadu, tidak menolak untuk diundang.

Yudistira mempertaruhkan harta, istana, dan kerajaannya setelah dihasut oleh Duryodana dan Sangkuni. Karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, maka ia mempertaruhkan saudara-saudaranya, termasuk istrinya, Drupadi. Akhirnya Yudistira kalah dan Drupadi diminta untuk hadir di arena judi karena sudah menjadi milik Duryodana. Duryodana mengutus para pengawalnya untuk menjemput Drupadi, namun Drupadi menolak. Setelah gagal, Duryodana menyuruh Dursasana, adiknya, untuk menjemput Drupadi. Drupadi yang menolak untuk datang, diseret oleh Dursasana yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Rambutnya ditarik sampai ke arena judi, tempat suami dan para iparnya berkumpul. Karena sudah kalah, Yudistira dan seluruh adiknya diminta untuk menanggalkan bajunya, namun Drupadi menolak. Dursasana yang berwatak kasar, menarik kain yang dipakai Drupadi, namun kain tersebut terulur-ulur terus dan tak habis-habis karena mendapat kekuatan gaib dari Sri Kresna yang melihat Drupadi dalam bahaya. Pertolongan Sri Kresna disebabkan karena perbuatan Drupadi yang membalut luka Sri Kresna pada saat upacara Rajasuya di Indraprastha.

Drupadi meratapi sikap Para Pandawa pada saat itu. Ia tidak habis pikir mengapa lelaki yang telah banyak membuatnya berkorban tidak menolong dirinya. Ya, Drupadi tahu ksartria memang harus sportif. Apabila mereka kalah, mereka harus mengakuinya dengan perbuatan. Dengan perasaan marah, Drupadi bersumpah pada saat itu untuk tidak menggelung dan mengeramasi rambutnya sebelum dapat keramas dengan darah Dursasana.

Kejadian itulah yang membuat Drupadi geram dan membuatnya menjadi istri yang berbeda dari perempuan pada umumnya. Ia telah memafkan Pandawa, namun kejadian usai permainan dadu itu membuatnya tidak tinggal diam. Dengan tidak mengurangi rasa hormatnya kepada suaminya, Drupadi berubah menjadi perempuan yang lebih tegas, mandiri, dan berani. Setelah terbebas dari masa pengasingan selama 12 tahun ditambah 1 tahun penyamaran di Wirata, Drupadi menyerukan gugatannya kepada Pandawa.

Drupadi lah yang secara lantang mengingatkan Pandawa mengenai kecurangan-kecurangan Kurawa. Ia pula yang membakar dada Para Pandawa untuk mau maju mengambil kembali hak-hak kerjaan yang dirampas oleh Kurawa dengan liciknya. Ia pula lah yang mengingatkan Pandawa tentang janjinya saat dipermalukan dulu, hal yang membuat Bima tergerak untuk menuntaskan janji Drupadi.
Drupadi membuat Para Pandawa tergerak untuk menuntut Kurawa agar mengembalikan hak-hak mereka, hingga meletus lah perang Barathayudha yang dahsyat itu.


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Drupadi
http://kunta-wijaya.blogspot.com/

Baca Selengkapnya ....

Quality Control System Pada Pabrik Carton Box

Posted by Ngatiyat Prambudi Saturday, June 7, 2014 0 comments

Definisi Quality Control
Sebelum kita berbicara mengenai Quality Control atau Pengendalian Kualitas terlebih dahulu kita harus tahu arti dari kualitas itu sendiri. Banyak sekali definisi kualitas yang dikemukakan oleh para ahli. “Kualitas” menyangkut masalah keunggulan produk atau pelayanan yang dapat memenuhi atau melebihi harapan kita. Harapan ini didasarkan pada tujuan penggunaan dan harga jual. Menurut ANSI/ASQC Standart A31987, kualitas adalah keseluruhan ciri atau  karakteristik produk dan jasa yang kemampuannya  dapat memuaskan kebutuhan, baik yang dinyatakan secara tegas maupun tersamar.
Istilah kebutuhan dapat diartikan sebagai permintaan customer yang berupa spesifikasi yang tercantum dalam kontrak pembelian maupun kriteria-kriteria yang harus didefinisikan terlebih dahulu. Permintaan pelanggan tersebut menyangkut : keamanan, ketersediaan, kemampuan merawat, kehandalan, dapat digunakan, ekonomis (harga), dan lingkungan.
Pengendalian kualitas (Quality Control), atau yang biasanya disingkat  QC, dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang pada intinya adalah suatu kegiatan atau suatu teknik yang dilakukan dalam suatu rangkaian proses produksi untuk memastikan barang yang dihasilkan akan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.
Quality Control dalam Pabrik Carton Box.
Secara garis besar pengendalian kualitas pada pabrik Carton Box dapat digambarkan sbb :



Incoming Quality Control.
Pengendalian kualitas diawali dengan “incoming inspection” pada bahan baku (raw materials) dan bahan pembantu (supporting materials) yang akan digunakan. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan kualitas bahan baku mempunyai pengaruh yang sangat besar untuk menghasilkan produk yang baik. “Incoming inspection” ini  dimaksudkan untuk memastikan bahwa baku dan bahan pembantu yang dikirim oleh supplier sudah sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Dalam kegiatan “incoming inspection” tersebut setiap barang datang diperiksa secara visual dan dilanjutkan dengan pengujian laboratorium. Karyawan yang bertugas untuk memeriksa (inspektor) akan diberikan spesifikasi dan kriteria kecacatan produk sebagai acuan standard.
Perusahaan karton box yang baik pasti mempunyai Standard Operating Prosedur (SOP) mengenai incoming inspection. Didalam SOP diatur ketentuan-ketentuan  mengenai beberapa hal diantaranya metode sampling, metode pengujian dan prosedur pengambilan keputusan jika terdapat ketidaksesuaian kualitas. Selain itu didalam SOP juga ditetapkan spesisikasi dari masing-masing bahan baku dan bahan pembantu yang akan diuji.
Apa saja yang dikontrol kualitasnya?
Bahan baku karton box adalah kertas kraft, fluting medium dan kertas white kraft. Pemeriksaan kualitas kertas ini menjadi sangat penting mengingat hampir 70% kualitas corrugated sheet ditentukan oleh kualitas kertasnya. Dalam pemeriksaan kualitas kertas ini inspektor QC akan mengambil sample sesuai standard yang sudah ditetapkan dalam SOP dan melakukan pemeriksaan baik secara visual maupun test laboratorium. Beberapa item test yang umum dilakukan pada kertas roll adalah sbb :
  • Basic Weight
  • Moisture Content
  • Cobb Size
  • Ring Crush Test
  • Bursting Strength
  • Concora Medium Test
  • Dll.
Manajemen perusahaan juga menetapkan spesifikasi dan kriteria produk cacat pada material pembantu (supporting materials) antara lain tapioca,tinta, lem,kawat stiching,bahan photopolymer,tali strapping band dll. Pada prinsipnya setiap material yang datang dilakukan “incoming inspection” untuk memastikan bahwa semua material yang akan digunakan dalam proses produksi kualitasnya sudah sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan. Jika terdapat ketidaksesuaian antara spesifikasi dengan hasil test laboratorium maka akan diselesaikan sesuai mekanisme yang telah ditetapkan dalam SOP.
In Proccess Quality Control
Pemeriksaan dan pengawasan pada bagian proses produksi carton box dapat dilakukan sedikitnya pada dua titik pemeriksaan (check point) yaitu pada unit corrugator dan unit konverting. Penekanan in-process quality control ini terletak pada pengujian produk untuk memastikan ada atau tidaknya produk yang cacat. Dalam pemilihan produk yang akan diuji, biasanya dilakukan pengambilan produk secara acak (menggunakan teknik sampling). Jika ditemukan ada penyimpangan kualitas maka setelah menguji produk yang cacat tersebut selanjutnya akan dilaporkan kepada manajemen pembuat keputusan apakah produk dapat diteruskan atau ditolak.
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk menjamin kualitas dan memastikan bahwa produk yang dihasilkan selalu memenuhi standard. Selain itu pemeriksaan juga dilakukan  sebagai upaya untuk memastikan bahwa  barang tersebut layak untuk diteruskan ke proses berikutnya. Dan pada akhir proses diharapkan sudah tidak ada lagi produk cacat yang terkirim ke customer. Seperti kita ketahui isu mengenai pengendalian kualitas merupakan persyaratan utama dalam setiap tender yang dilakukan pelanggan. Untuk order kontrak, terutama pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh instansi pemerintah, isu-isu pengendalian kualitas adalah salah satu alasan utama yang menyebabkan tidak diperbaharuinya kontrak kerja.
Pengendalian kualitas pada unit Corrugator.
Pengendalian kualitas di mesin corrugator meliputi : kebenaran substance kertas, ukuran sheet, jarak antar creasing, kondisi permukaan sheet dll. Beberapa criteria corrugated sheet yang dianggap cacat antara lain namun tidak terbatas pada :
  • jenis flute,
  • ukuran,
  • blister,
  • blowing,
  • high-low corrugation,
  • sheet melengkung,
  • potongan tepi jelek (trimming),
  • sheet mengelupas,
  • sheet gembos dll.
Item test ini bisa dilakukan dengan pemeriksaan secara visual. Selain itu masih ada lagi pemeriksaan laboratorium mengenai beberapa hal berikut : substance kertas, ply adhesion test, RCT, bursting strength dll.
Pengendalian kualitas pada unit Konverting
Unit berikutnya dalam proses produksi carton box adalah converting. Pada unit ini ada dua bagian proses yaitu Printing (termasuk slotter & diecutting) dan Gluing / Stitching. Pengendalian kualitas dimulai dari mesin flexo dimana pada proses ini lembaran karton dari mesin corrugator akan diproses printing, slotter dan creasing. Pengendalian kualitas yang perlu dilakukan pada unit ini antara lain namun tidak terbatas pada :
  • Dimensi / ukuran carton box yang meliputi panjang, lebar, tinggi,
  • Printing / Cetakan yang meliputi warna, design, text, register
  • Lubang slotter baik jarak maupun kebersihannya, serta ketepatan creasing dan jarak creasing.
Pada proses selanjutnya dalam rangkaian proses pembuatan sebuah carton box adalah folding and stiching. Pemeriksaan yang perlu dilakukan disini meliputi ketepatan joint, jenis stiching apakah single, double atau ujung doble serta jarak antar stiching. Pemeriksaan dilakukan secara manual.

Finishished Good Quality Control
Setelah melalui rangkaian proses produksi mulai dari corrugators sampai stiching, sebelum masuk gudang barang diperiksa lagi oleh inspector QC untuk memastikan bahwa barang dalam kondisi baik dan spesifikasi sesuai dengan pesanan. Pemeriksaan disini dengan membentuk carton box yang sudah jadi. Kemudian diperiksa dimensinya, ketepatan slotternya, ketepatan jointnya, kerapian dll. Setelah itu barang yang sudah sesuai dinyatakan lolos dan distempel QC PASS pada labelnya dan selanjutnya barang dimasukkan gudang dan siap untuk dikirim ke customer.



Baca Selengkapnya ....

Ringkasan Cerita Mahabharata

Posted by Ngatiyat Prambudi Monday, May 19, 2014 0 comments

Secara garis besar Mahabarata mengisahkan kehidupan Prabu Santanu. Prabu Santanu adalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan Sang Kuru, berasal dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, namun Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan anak yang diberi nama Dewabrata atau Bisma. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda.

Pada suatu hari Sentanu jatuh cinta pada seorang anak raja nelayan bernama Setyawati. Namun ayahanda Setyawati hanya mau memberikan putrinya jika Sentanu kelak mau menobatkan anaknya dari Setyawati sebagai putra mahkota pewaris takhta dan bukannya Bisma. Karena syarat yang berat ini Sentanu terus bersedih. Melihat hal ini, Bisma yang tahu mengapa ayahnya demikian, merelakan haknya atas takhta di Barata diserahkan kepada putra yang kelak lahir dari Setyawati. Bahkan Bisma berjanji tidak akan menuntut itu kapan pun dan berjanji tidak akan menikah agar kelak tidak mendapat anak untuk mewarisi takhta Sentanu.

Perkawinan Sentanu dan Setyawati melahirkan dua orang putra masing-masing Citranggada dan Wicitrawirya. Namun kedua putra ini meninggal dalam pertempuran tanpa meninggalkan keturunan. Karena takut punahnya keturunan raja, Setyawati memohon kepada Bisma agar menikah dengan dua mantan menantunya yang ditinggal mati oleh Wicitrawirya, masing-masing Ambika dan Ambalika. Namun permintaan ini ditolak Bisma mengingat sumpahnya untuk tidak menikah. Atas bantuan Resi Byasa, kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, melahirkan masing-masing seorang putera, nama mereka Pandu (dari Ambalika) dan Dretarastra (dari Ambika).

Dretarastra terlahir buta, maka tahta Hastinapura diserahkan kepada Pandu, adiknya. Pandu menikahi Kunti kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan Madrim, namun akibat kesalahan Pandu pada saat memanah seekor kijang yang sedang kasmaran, maka kijang tersebut mengeluarkan (Supata=Kutukan) bahwa Pandu tidak akan merasakan lagi hubungan suami istri, dan bila dilakukannya, maka Pandu akan mengalami ajal. Kijang tersebut kemudian mati dengan berubah menjadi wujud aslinya yaitu seorang pendeta.

Kemudian karena mengalami kejadian buruk seperti itu, Pandu lalu mengajak kedua istrinya untuk bermohon kepada Hyang Maha Kuasa agar dapat diberikan anak. Lalu Batara guru mengirimkan Batara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahir anak yang pertama yaitu Yudistira Kemudian Batara Guru mengutus Batara Indra untuk membuahi Dewi Kunti shingga lahirlah Harjuna, lalu Batara Bayu dikirim juga untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Bima, dan yang terakhir, Batara Aswin dikirimkan untuk membuahi Dewi Madrim, dan lahirlah Nakula dan Sadewa.


Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa. Dretarastra yang buta menikahi Gandari, dan memiliki seratus orang putera dan seorang puteri yang dikenal dengan istilah Korawa. Pandu dan Dretarastra memiliki saudara bungsu bernama Widura. Widura memiliki seorang anak bernama Sanjaya, yang memiliki mata batin agar mampu melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Agar lebih jelas lihat silsilah berikut ini :



Pandawa dan Korawa
Pandawa dan Korawa merupakan dua kelompok dengan sifat yang berbeda namun berasal dari leluhur yang sama, yakni Kuru dan Bharata. Korawa (khususnya Duryodana) bersifat licik dan selalu iri hati dengan kelebihan Pandawa, sedangkan Pandawa bersifat tenang dan selalu bersabar ketika ditindas oleh sepupu mereka. Ayah para Korawa, yaitu Dretarastra, sangat menyayangi putera-puteranya. Hal itu membuat ia sering dihasut oleh iparnya yaitu Sangkuni, beserta putera kesayangannya yaitu Duryodana, agar mau mengizinkannya melakukan rencana jahat menyingkirkan para Pandawa.

Pada suatu ketika, Duryodana mengundang Kunti dan para Pandawa untuk liburan. Di sana mereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Duryodana. Pada malam hari, rumah itu dibakar. Namun para Pandawa diselamatkan oleh Bima sehingga mereka tidak terbakar hidup-hidup dalam rumah tersebut. Usai menyelamatkan diri, Pandawa dan Kunti masuk hutan. Di hutan tersebut Bima bertemu dengan rakshasa Hidimba dan membunuhnya, lalu menikahi adiknya, yaitu rakshasi Hidimbi. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Gatotkaca.

Setelah melewati hutan rimba, Pandawa melewati Kerajaan Panchala. Di sana tersiar kabar bahwa Raja Drupada menyelenggarakan sayembara memperebutkan Dewi Dropadi. Karna mengikuti sayembara tersebut, tetapi ditolak oleh Dropadi. Pandawa pun turut serta menghadiri sayembara itu, namun mereka berpakaian seperti kaum brahmana.

Pandawa ikut sayembara untuk memenangkan lima macam sayembara, Yudistira untuk memenangkan sayembara filsafat dan tatanegara, Arjuna untuk memenangkan sayembara senjata Panah, Bima memenangkan sayembara Gada dan Nakula - Sadewa untuk memenangkan sayembara senjata Pedang. Pandawa berhasil melakukannya dengan baik untuk memenangkan sayembara.

Dropadi harus menerima Pandawa sebagai suami-suaminya karena sesuai janjinya siapa yang dapat memenangkan sayembara yang dibuatnya itu akan jadi suaminya walau menyimpang dari keinginannya yaitu sebenarnya yang diinginkan hanya seorang Satriya.

Setelah itu perkelahian terjadi karena para hadirin menggerutu sebab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti sayembara. Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainya di rumah, mereka berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta. Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya tidak hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Tak pelak lagi, Dropadi menikahi kelima Pandawa.

Permainan dadu
Agar tidak terjadi pertempuran sengit, Kerajaan Kuru dibagi dua untuk dibagi kepada Pandawa dan Korawa. Korawa memerintah Kerajaan Kuru induk (pusat) dengan ibukota Hastinapura, sementara Pandawa memerintah Kerajaan Kurujanggala dengan ibukota Indraprastha. Baik Hastinapura maupun Indraprastha memiliki istana megah, dan di sanalah Duryodana tercebur ke dalam kolam yang ia kira sebagai lantai, sehingga dirinya menjadi bahan ejekan bagi Dropadi. Hal tersebut membuatnya bertambah marah kepada para Pandawa.

Untuk merebut kekayaan dan kerajaan Yudistira, Duryodana mengundang Yudistira untuk main dadu ini atas ide Sangkuni, hal ini dilakukan sebenarnya untuk menipu Pandawa mengundang Yudistira untuk main dadu dengan taruhan. Yudistira yang gemar main dadu tidak menolak undangan tersebut dan bersedia datang ke Hastinapura.

Pada saat permainan dadu, Duryodana diwakili oleh Sangkuni sebagai bandar dadu yang memiliki kesaktian untuk berbuat curang. Permulaan permainan taruhan senjata perang, taruhan pemainan terus meningkat menjadi taruhan harta kerajaan, selanjutnya prajurit dipertaruhkan, dan sampai pada puncak permainan Kerajaan menjadi taruhan, Pandawa kalah habislah semua harta dan kerajaan Pandawa termasuk saudara juga dipertaruhkan dan yang terakhir istrinya Dropadi dijadikan taruhan.

Dalam peristiwa tersebut, karena Dropadi sudah menjadi milik Duryodana, pakaian Dropadi ditarik oleh Dursasana karena sudah menjadi harta Duryodana sejak Yudistira kalah main dadu, namun usaha tersebut tidak berhasil membuka pakaian Dropadi, karena setiap pakaian dibuka dibawah pakaian ada pakaian lagi begitu terus tak habisnya berkat pertolongan gaib dari Sri Kresna.

Karena istrinya dihina, Bima bersumpah akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya kelak. Setelah mengucapkan sumpah tersebut, Dretarastra merasa bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya, maka ia mengembalikan segala harta Yudistira yang dijadikan taruhan.
Duryodana yang merasa kecewa karena Dretarastra telah mengembalikan semua harta yang sebenarnya akan menjadi miliknya, menyelenggarakan permainan dadu untuk yang kedua kalinya. Kali ini, siapa yang kalah harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, setelah itu hidup dalam masa penyamaran selama setahun, dan setelah itu berhak kembali lagi ke kerajaannya. Untuk yang kedua kalinya, Yudistira mengikuti permainan tersebut dan sekali lagi ia kalah. Karena kekalahan tersebut, Pandawa terpaksa meninggalkan kerajaan mereka selama 12 tahun dan hidup dalam masa penyamaran selama setahun.

Setelah masa pengasingan habis dan sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa berhak untuk mengambil alih kembali kerajaan yang dipimpin Duryodana. Namun Duryodana bersifat jahat. Ia tidak mau menyerahkan kerajaan kepada Pandawa, walau seluas ujung jarum pun. Hal itu membuat kesabaran Pandawa habis. Misi damai dilakukan oleh Sri Kresna, namun berkali-kali gagal. Akhirnya, pertempuran tidak dapat dielakkan lagi.

Pertempuran di Kurukshetra
Pandawa berusaha mencari sekutu dan ia mendapat bantuan pasukan dari Kerajaan Kekaya, Kerajaan Matsya, Kerajaan Pandya, Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala, Kerajaan Magadha, Wangsa Yadawa, Kerajaan Dwaraka, dan masih banyak lagi. Selain itu para ksatria besar di Bharatawarsha seperti misalnya Drupada, Satyaki, Drestadyumna, Srikandi, Wirata, dan lain-lain ikut memihak Pandawa. Sementara itu Duryodana meminta Bisma untuk memimpin pasukan Korawa sekaligus mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Korawa dibantu oleh Resi Drona dan putranya Aswatama, kakak ipar para Korawa yaitu Jayadrata, serta guru Krepa, Kretawarma, Salya, Sudaksina, Burisrawas, Bahlika, Sangkuni, Karna, dan masih banyak lagi.

Pertempuran berlangsung selama 18 hari penuh. Dalam pertempuran itu, banyak ksatria yang gugur, seperti misalnya Abimanyu, Drona, Karna, Bisma, Gatotkaca, Irawan, Raja Wirata dan puteranya, Bhagadatta, Susharma, Sangkuni, dan masih banyak lagi. Selama 18 hari tersebut dipenuhi oleh pertumpahan darah dan pembantaian yang mengenaskan. Pada akhir hari kedelapan belas, hanya sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Satyaki, Aswatama, Krepa dan Kretawarma.

Penerus Wangsa Kuru
Setelah perang berakhir, Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Setelah memerintah selama beberapa lama, ia menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, yaitu Parikesit. Kemudian, Yudistira bersama Pandawa dan Dropadi mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Di sana mereka meninggal dan mencapai surga. Parikesit memerintah Kerajaan Kuru dengan adil dan bijaksana. Ia menikahi Madrawati dan memiliki putera bernama Janamejaya. Janamejaya menikahi Wapushtama (Bhamustiman) dan memiliki putera bernama Satanika. Satanika berputera Aswamedhadatta. Aswamedhadatta dan keturunannya kemudian memimpin Kerajaan Wangsa Kuru di Hastinapura.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mahabharata


Baca Selengkapnya ....
Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of Karton Media.